Kamis, 22 Maret 2012

Etika Profesi ( IQ, EQ, SQ )


1.       Pengertian IQ, EQ, SQ

a.       Pengertian IQ (Intelligent Quotient )

IQ ( Intelligent Quotient) merupakan tingkat kecerdasan manusia yang ditinjau dari kecerdasan intelektual, berupa kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Ia merupakan kecerdasan untuk menerima, menyimpan dan mengolah infomasi menjadi fakta. Orang yang kecerdasan intelektualnya baik, baginya tidak ada informasi yang sulit, semuanya dapat disimpan dan diolah, untuk pada waktu yang tepat dan pada saat dibutuhkan diolah dan diinformasikan kembali. Proses menerima , menyimpan, dan mengolah kembali informasi, (baik informasi yang didapat lewat pendengaran, penglihatan atau penciuman) biasa disebut "berfikir".

b.      Pengertian EQ ( Emotional Quotient )

EQ ( Emotional Quotient) merupakan tingkat kecerdasan manusia yang ditinjau dari kecerdasan emosional, berupa kemampuan merasakan, memahami dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Dapat dikatakan bahwa EQ adalah kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Untuk pemilik EQ yang baik, baginya infomasi tidak hanya didapat lewat panca indra semata, tetapi ada sumber yang lain, dari dalam dirinya sendiri yakni suara hati. Malahan sumber infomasi yang disebut terakhir akan menyaring dan memilah informasi yang didapat dari panca indra.
Substansi dari kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan dan memahami untuk kemudian disikapi secara manusiawi. Orang yang EQ-nya baik, dapat memahami perasaan orang lain, dapat membaca yang tersurat dan yang tersirat, dapat menangkap bahasa verbal dan non verbal. Semua pemahaman tersebut akan menuntunnya agar bersikap sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan lingkungannya Dapat dimengerti kenapa orang yang EQ-nya baik, sekaligus kehidupan sosialnya juga baik. Lain tidak karena orang tersebut dapat merespon tuntutan lingkungannya dengan tepat .
Di samping itu, kecerdasan emosional mengajarkan tentang integritas kejujuran komitmen, visi, kreatifitas, ketahanan mental kebijaksanaan dan penguasaan diri. Oleh karena itu EQ mengajarkan bagaimana manusia bersikap terhadap dirinya (intra personal) seperti self awamess (percaya diri), self motivation (memotivasi diri), self regulation (mengatur diri), dan terhadap orang lain (interpersonal) seperti empathy, kemampuan memahami orang lain dan social skill yang memungkinkan setiap orang dapat mengelola konflik dengan orang lain secara baik . Dalam bahasa agama , EQ adalah kepiawaian menjalin "hablun min al-naas". Pusat dari EQ adalah "qalbu" . Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubah sesuatu yang dipikirkan menjadi sesuatu yang dijalani. Hati dapat mengetahui hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh otak. Hati adalah sumber keberanian dan semangat , integritas dan komitmen. Hati merupakan sumber energi dan perasaan terdalam yang memberi dorongan untuk belajar, menciptakan kerja sama, memimpin dan melayani





c.       Pengertian SQ (Spiritual Quotient )

SQ ( Spiritual Quotient ) merupakan tingkat kecerdasan manusia yang ditinjau dari kecerdasan spiritual berupa, kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yakni kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas. Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibanding dengan yang lain. Dapat juga dikatakan bahwa kecerdasan spiritual merupakan kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah- langkah dan pemikiran yang bersifat fitrah dalam upaya menggapai kualitas hanif dan ikhlas5. SQ adalah suara hati Ilahiyah yang memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat . Kalau EQ berpusat di hati, maka SQ berpusat pada "hati nurani"




2.       Hubungan IQ, EQ, SQ


Dalam rentang waktu dan sejarah yang panjang, manusia pernah sangat mengagungkan kemampuan otak dan daya nalar (IQ). Kemampuan berfikir dianggap sebagai primadona. Potensi diri yang lain dimarginalkan. Pola pikir dan cara pandang yang demikian telah melahirkan manusia terdidik dengan otak yang cerdas tetapi sikap., perilaku dan pola hidup sangat kontras dengan kemampuan intelektualnya. Banyak orang yang cerdas secara akademik tetapi gagal dalam pekerjaan dan kehidupan sosialnya. Mereka memiliki kepribadian yang terbelah (split personality). Di mana tidak terjadi integrasi antara otak dan hati. Kondisi tersebut pada gilirannya menimbulkan krisis multi dimensi yang sangat memprihatinkan.
Fenomena tersebut telah menyadarkan para pakar bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan otak dan daya pikir semata, malah lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Tentunya ada yang salah dalam pola pembangunan SDM selama ini, yakni terlalu mengedepankan IQ, dengan mengabaikan EQ dan SQ. Oleh karena itu kondisi demikian sudah waktunya diakhiri, di mana pendidikan harus diterapkan secara seimbang, dengan memperhatikan dan memberi penekanan yang sama kepada IQ, EQ dan SQ.
Jadi kesimpulannya, IQ, EQ, dan SQ pada diri seseorang memiliki keeterkaitan yang sangat erat hubungannya untuk kebutuhan manusia mencepai kesempurnaannya sebagai manusia. Dimana ketiganya sama – sama pentingnya bagi manusia.

PENGERTIAN ETIKA


                                               
1.       PENGERTIAN ETIKA
Konsep etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethos, yang berarti watak atau kebiasaan. Ethos mempunyai banyak arti  , tapi yang paling penting dalam konteks pembahasan ini adalah kebiasaan, akhlak atau watak atau karakter.
Moral atau karakter mempunyai makna yang sama, yaitu mengacu pada nilai-nilai atau aturan perilaku kelompok atau individu.
Proses pembentukan watak berlangsung menurut paradigma GTKW (Gagasan-Tindakan-Kebiasaan-Watak) atau menurut paradigma Steven R Covey : Taburlah gagasan, tuailah perbuatan; taburlah perbuatan,tuailah kebiasaan;taburlah kebiasaan,tuailah karakter.
Dalam pikiran bawah sadar tersimpan semua ingatan, kebiasaan, kepribadian dan citra diri. Kekuatan pikiran bawah sadar adalah 88%,sedangkan pikiran sadar 12%.
Etos juga berarti semangat khas kelompok tertentu, misalnya etos kerja. Rumusan norma-norma dan semangat kelompok tertentu disebut kode etik, seperti kode etik dokter, guru, wartawan dll.
Hampir sama dengan arti etos diatas adalah arti moral (dari bahasa latin mos atau jamak mores = kebiasaan, adat). Sebagai kata sifat, moral berkenaan dengan perbuatan baik atau buruk.
Sebagai kata benda, moral berarti norma-norma perbuatan yang baik atau buruk. Moral juga berarti semangat atau disiplin. Lawan dari moral adalah immoral dan bukan amoral karena ini berarti tidak berkaitan dengan moral.
Moralitas = sistem nilai yg terkandung dalam petuah, perintah atau aturan yang diwariskan melalui agama dan kebudayaan tentang bagaimana manusia harus hidup dengan baik atau tentang kualitas perbuatan yang baik atau buruk. Moralitas bisa dibedakan menjadi moralitas objektif(dilihat dari sudut ekstrinstrik) dan moralitas subjektif (dilihat dari segi instrinsik). Prinsip-prinsip moralitas bersifat universal.
Norma moral bersumber dari hati nurani (conscience), yg memerintahkan atau melarang manusia berbuat dan sekaligus sebagai saksi perbuatan manusia.
Makna kedua dari etika (ta etha) = norma-norma yg dianut oleh kelompok, golongan, masyarakat tertentu mengenai perbuatan yg baik dan buruk seperti etika Hindu, etika Jawa dan sebagainya.
Makna ketiga dari etika adalah studi tentang prinsip prinsip perilaku yg baik dan buruk = filsafat moral. Dalam hal ini, etika merupakan refleksi kritis dan rasional mengenai norma-norma yang terwujud dalam perilaku hidup manusia.
Kode etik ialah kaidah-kaidah peraturan-peraturan yang ditetapkan dan diterima oleh seluruh anggota suatu profesi. Umumnya kode etik ditetapkan dalam kongres.
Kode etik adalah persetujuan bersama, yang timbul dari diri para anggota itu sendiri utk lebih mengarahkan perkembangan mereka,sesuai dengan nilai-nilai ideal yang diharapkan.
Kode etik adalah hasil murni yang sesuai inspirasi profesi suatu kelompok tertentu ,demi utk kepentingan bersama dan kerukunan.
Tujuan utamanya :  adalah agar profesi itu dapat dilaksanakan dengan baik dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Nama baik profesi itu senantiasa dijunjung tinggi degnan rasa tanggung jawab dan tidak boleh menyimpang dari peraturan-peraturannya.
2.       PERAN MANFAAT ETIKA                                  
Manusia hidup dalam jaringan norma moral, religius, hukum, kesopanan, adat istiadat dalam permainan. Oleh karena itu manusia harus siap mengorbankan sedikit kebebasannya.
Norma moral memberikan kebebasan bagi manusia untuk bertindak sesuai dengan kesadaran akan bertanggung jawab = human act dan bukan an act of man.Menaati norma moral berarti menaati diri sendiri sehingga manusia menjadi otonom dan bukan heteronom.
Sekalipun sudah ada norma hukum, etika tetap diperlukan karena
(1) norma hukum tidak menjangkau wilayah abu-abu,
(2) norma hukum cepat ketinggalan zaman, sehingga sering terdapat celah-celah hukum,
(3)norma hukum sering tidak mampu mendeteksi dampak secara etis di kemudian hari,
(4)etika mempersyaratkan pemahaman dan kepedulian tentang kejujuran,keadilan dan produser yg wajar terhadap manusia dan masyarakat,
(5)asas legalitas harus tunduk pada asas moralitas.
Manfaat etika adalah :
(1)mengajak orang bersikap kritis dan rasional dalam mengambil keputusan secara otonom,
(2)mengarahkan perkembangan masyarakat menuju suasana yg tertib,teratur,damai dan sejahtera.
Perlu diwaspadai bahwa “power tends to corrupt”,”the end justivies the means” serta pemimpin ala Machiavellian,yg galak seperti singa dan licin seperti belut.
3.       FENOMENOLOGI KESADARAN MORAL
Kesadaran moral = kesadaran tentang kenyataan, mengandung pernyataan mengenai sesuatu. Kesadaran moral bersifat rasional, objektif dan mutlak.  Memang ada relativisme moral yang berlaku untuk lingkungan sosial budaya tertentu. Namun nilai-nilai moral yang bersifat mendasar speperti kejujuran,keadilan, kearifan dan pengendalian diri bersifat universal.
Pembentukan keutamaan moral (virtue) memang tidak sekali jadi, tetapi harus dilakukan secara terus menerus, sehingga tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan kukuh.
Excellence is not an act, but habit.
Kebebasan dapat dilihat secara negatif (bebas dari apa),yaitu bebas dari tekanan atau larangan dari luar. Ini merupakan kebebasan dalam arti luas. Sedangkan kebebasan dalam arti sempit berarti tidak ada kewajiban.Kebebasan juga dapat dilihat secara positif (bebas untuk apa), yaitu bebas untuk menentukan sendiri tujuan dan apa yang akan dilakukan.
Selain kebebasan moral,terdapat kebebasan jasmaniah,berkehendak, dan berpikir.
Kebebasan dan tanggung jawab mempunyai kaitan yang sangat erat,bahkan tidak mungkin ada tanggung jawab tanpa ada kebebasan.
4.       ETIKA  NORMATIF
Etika normatif memberikan jawaban atas pernyataan: Menurut norma-norma manakah kita seharusnya bertindak?
Jawaban atas pertanyaan itu diberikan oleh teori deontologi (deon = wajib, harus, sesuai dengan prosedur) dan teori teleologi (telos = tujuan, sasaran, hasil, akibat).
Teori deontologi dibedakan menjadi deontologi aturan (bertindaklah menurut kaidah yang sekaligus engkau kehendaki dapat diberlakukan secara umum); dan deontologi situasi (suatu tindakan adalah secara moral baik jika tindakan itu dapat dijadikan aturan umum di mana semua orang bertindak sama dalam situasi itu). Teori deontologi aturan menghadapi masalah ketika ada dua norma bertentangan. Dan semua aturan moral kadang-kadang memunculkan pengecualian. W.D.Ross memberikan solusi bahwa kewajiban moral bersifat prima facie. Sementara Immanuel Kant memberikan pemecahan melalui teori deontologi situasi dengan tiga kriteria tindakan, yaitu (1) reversibilitas; (2)universabilitas; (3)penghargaan terhadap martabat manusia.
Teori teleologi membedakan tujuan, hasil, sasaran atau akibat dari sudut apa dan siapa. Dilihat dari sudut apa,dikenal dua versi teleologi,yaitu hedonisme (hedone = kenikmatan) = bertindaklah sedemikian rupa sehingga mencapai kenikmatan yang paling besar; dan eudaimonisme (eudaimonia = kebahagiaan) = bertindaklah sedemikian rupa sehingga mencapai kebahagiaan.Dilihat dari sudut siapa,dikenal versi egoisme etis,yang dibedakan lagi menjadi egoisme hedonistik = bertindaklah sedemikian rupa sehingga mencapai kenikmatan yang paling besar bagimu; dan egoisme eudaimonistik = bertindaklah sedemikian rupa sehingga mencapai kebahagiaan terbesar bagimu.
Egoisme juga dibedakan menjadi egoisme psikologis,egoisme kelompok, dan egoisme dicerahi.
Selangkah lebih maju dari egoisme dicerahi adalah universalisme etis atau utilitarianisme (utilis = berguna), yaitu “the greatest happiness of the greatest number of the people”.Utilitarianisme dibedakan menjadi utilitarianisme hedonistik (mengukur tingkat kesenangan dan ketidaksenangan) dan utilitarianisme eudaimonistik (jumlah kebahagiaan tertinggi di antara pihak yang terlibat).

Macam-macam Karakter Manusia



KHOLERIS
Orang kholeris adalah orang yang mempunyai jiwa kepemimpinan. Punya wibawa, punya kemauan kuat, serta biasanya gampang menyuruh-nyuruh orang lain. Kelemahannya tidak semua orang mau disuruh-suruh. Orang yang menjadi pemimpin/manajer biasanya bertipe kholeris.

Emosi :
Kelebihan : Berbakat pemimpin, Dinamis dan aktif, Sangat memerlukan perubahan, Harus mengoreksi kesalahan, Berkemauan keras dan pasti, Tidak emosional, Tidak mudah patah semangat, Bebas dan mandiri, Mengesampingkan keyakinan, Bisa menjalankan apa saja.

Kelemahan
: Suka memerintah, Tidak sabar, Cepat marah, Tidak bisa santai, Terlalu bergairah, Menyukai kontroversi dan pertengkaran, Tidak mau menyerah kalau kalah, Terlalu kuat, Kaku, Tidak mau memuji, Tidak menyukai air mata dan emosi, Tidak simpatik.

Kerja :
Kelebihan : Berorientasi tujuan, Melihat seluruh gambaran, Serba teratur, Mencari pemecahan praktis, Bergerak cepat untuk bertindak, Mendelegasikan pekerjaan, Wawasan tentang produksi, Membuat tujuan, Merangsang kegiatan, Terdorong oleh penentangan.

Kelemahan : Sedikit toleransi terhadap kesalahan, Tidak menganalisis perincian, Bosan oleh hal sepele, Banyak yang membuat keputusan tergesa-gesa, Bisa kasar atau tidak taktis, Memanipulasi orang lain, Menuntut orang lain, Tujuan menghalalkan cara, Kerja bisa menjadi tuhannya, Menuntut loyalitas bawahan.

Teman-teman :
Kelebihan : Mau bekerja untuk kegiatan kelompok, Mau memimpin dan mengorganisai, Biasanya benar, Unggul dalam keadaan darurat.

Kelemahan : Cenderung memperalat orang lain, Mendominasi orang lain, Memutuskan untuk orang lain, Mengetahui segala-galanya, Bisa melakukan segala-galanya lebih baik, Terlalu mandiri, Ingin menguasai kawan dan teman hidup, Tidak bisa minta maaf.




MELANKOLIS

Orang melankolis adalah orang yang perfeksionis. Suka akan hal-hal yang detil dan membutuhkan ketelitian. Salah satu kelemahan orang melankolis adalah karena sifatnya yang terlalu perfeksionis, kadang-kadang suka menunda-nunda pekerjaan sampai terciptanya suasana yang sempurna. Orang yang bekerja di bidang penelitian/riset biasanya bertipe melankolis.

Emosi :
Kelebihan : Mendalam dan penuh pikiran, Analitis, Serius dan bertujuan, Berbakat dan kreatif, Artistik dan musical, Berfilsafat dan puitis, Menghargai keindahan, Sensitif kepada orang lain, Mau mengorbankan diri, Bijaksana, Idealistis

Kelemahan : Mengingat yang negative, Murung dan tertekan, Menikmati sakit hati, Punya kerendahan hati palsu, Berada di dunia lain, Citra diri rendah, Mendengarkan secara selektif, Mementingkan diri sendiri, Terlalu introspektif, Merasa bersalah, Menderita kompleks teraniaya, Cenderung menderita hipokondria.

Kerja :
Kelebihan : Berorientasi jadwal, Perfeksionis, standar tinggi, Sadar perincian, Tekun dan tuntas, Serba tertib dan teratur, Serba rapi, Hemat, Melihat masalah, Menemukan pemecahan kreatif, Perlu menyelesaikan apa yang dimulai, Menykai tabel, grafik, angka dan daftar.
Kelemahan : Tidak berorientasi manusia, Tertekan karena ketidaksempurnaan, Memilih kerjaan sulit, Ragu-ragu memulai proyek, Melewatkan banyak waktu untuk merencanakan, Memilih analisis diatas kerja, Merendahkan diri sendiri, Sulit disenangkan, Standar sering terlalu tinggi apa yang dimulai.


Teman – Teman :
Kekuatan : Berteman dengan hati-hati, Puas ada di belakang layar, Menghindari perhatian, Setia dan mengabdi, Mau mendengarkan keluhan, Bisa memecahkan masalah orang lain, Sangat memperhatikan orang lain, Mudah terharu dan kasihan, Mencari teman hidup ideal.

Kelemahan : Hidup melalui orang lain, Tidak aman secara sosial, Menarik diri dan menjauh, Suka mengkritik orang lain, Menahan kasih saying, Tidak menyukai yang menentang, Mencurigai orang lain, Antagonistis dan pendendam, Tidak mudah memaafkan, Penuh kontradiksi, Skeptis terhadap pujian.



SANGUINIS
Orang sanguinis adalah orang yang populer. Suka cerita, banyak omong, dan selalu menjadi pusat perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Orang sanguinis gampang bergaul dan mudah berteman. Salah satu kelemahannya adalah sifatnya yang moody, atau tergantung suasana hati. Kadang ia cepat gembira, namun tiba-tiba menangis, atau sebaliknya. Profesi yang berkutat di bidang entertainment/hiburan biasanya diwarnai dengan orang-orang yang bertipe sanguinis.


Emosi :
Kelebihan : Kepribadian menyenangkan, Suka bicara dab bercerita, Menghidupkan suasana pesta, Selera humor yang baik, Ingatan akan warna, Antusian dan ekspresif, Ceria dan selalu gembira, Penuh rasa ingin tahu, Bermata lebar dan polos, Hidup dimasa sekarang, Sikapnya mudah berubah, Berhati tulus, Tetap menjadi anak-anak
Kelemahan : Suka bicara, Membesar besarkan, Menyukai perincian, Susah mengingat nama, Membuat orang lain takut, Sebagian terlalu bahagia, Energi yang tak mau diam, Egoistis, Suka mengeluh, Kekanak-kanakan, Suara dan tertawa keras, Dikendalikan keadaan, Mudah marah, Tampak palsu bagi sebahagian orang, Tidak pernah dewasa.
Kerja : 
Kelebihan : Mengajukan diri secara sukarela, Memikirkan kegiatan baru, Tampak hebat di permukaan, Kreatif dan penuh warna, Punya energi dan semangat, Mulai dengan cara yang hebat, Mengilhami orang lain untuk bergabung, Mempesona orang lain untuk bekerja.
Kelemahan : Lebih suka bicara untuk bekerja, Melupakan kewajiban, Tidak mengikuti sampai tuntas, Keyakinan cepat luntur, Tidak disiplin, Prioritas kacau, Memutuskan denga perasaan, Mudah teralihkan perhatiannya, Membuang-buang waktu dengan bicara.
Teman – Teman :
Kelebihan : Mudah berteman, Menyukai orang lain, Terdorong oleh pujian, Tampak menggembirakan, Dicemburui orang lain, Tidak menyimpan dendam, Cepat minta maaf, Mencegah saat membosankan, Menyukai kegiatan spontan.
Kelemahan : Benci sendirian, Perlu menjadi pusat perhatian, Ingin popoler, Mencari penghargaan, Mendominasi percakapan, Menyela dan tidak mendengarkan, Menjawab untuk orang lain, Tidak tetap dan pelupa, Menyukai kegiatan spontan, Membuat dalih, Mengulangi cerita.


PHLEGMATIS

Orang phlegmatis adalah orang yang cinta damai. Sifatnya mengalah, tidak mau terlibat dalam perdebatan. Kelemahannya antara lain karena terlihat lemah, kadang-kadang dipermainkan oleh orang lain. Orang phlegmatis biasanya ada di profesi-profesi yang tidak banyak konflik.

Emosi :
Kelebihan : Kepribadian profil rendah, Mudah bergaul dan santai, Tenang dan teguh, Sabar, Seimbang, Hidup konsisten, Tidak banyak cakap tetapi bijaksana, Simpatik dan baik hati, Menyembunyikan emosi, Senang menyesuaikan diri dengan kehidupan, Penuh tujuan.
Kelemahan : Tidak antusias, Takut dan khawatir, Tidak pasti, Menghindari tanggung jawab, Berkemauan baja yang tenang, Mementingkan diri sendiri, Terlalu pemalu dan pendiam, Terlalu suka kompromi, Merasa benar sendiri.

Kerja :
Kelebihan : Cakap dan mantap, Damai dan menyenangkan, Punya kemampuan administrasi, Menengahi masalah, Menghindari pertikaian, Baik di bawah tekanan, Menemukan cara yang mudah.

Kelemahan : Tidak berorientasi tujuan, Kurang motivasi diri, Sulit bergerak, Tidak senang didesak-desak, Malas dan tidak peduli, Membuat orang lain merosot semangatnya, Lebih suka menonton Pornografi.

Teman – Teman :
Kelebihan : Mudah diajak rukun, Menyenangkan, Tidak suka menyinggung perasaan, Pendengar yang baik, Rasa humor yang tajam, Suka mengawasi orang lain, Punya banyak teman, Berbelas kasihan dan peduli.

Kelemahan : Menghilangkan antusiasme, Tidak mau terlibat, Tidak mempedulikan rencana, Menilai orang lain, Sarkatis dan mengejek, Menolak perubahan.